Riwayat Tiang Listrik
Awalnya tiang listrik dibuat dengan bahan kayu, yang ditanam pada permukaan tanah dan mampu melayani jaringan listrik buat warga masyarakat. Penjaga keamanan ditingkat lingkungan tempat tinggal kita, disebut Hansip, menggunakan kentongan atau alat tetabuhan sejenis untuk membuat penanda waktu, khususnya saat malam & dini hari. Tiang listrik yang terbuat dari kayu tadi tidak senyaring bunyi kentongan saat ditabuh, sehingga tiang listrik dari kayu tidak banyak bermanfaat bagi sang Hansip. Tapi lebih aman bagi jaringan listrik, yang mana tiang listrik kayu lebih bersifat isolator.
Lalu, saat tiang listrik kayu dari waktu ke waktu ternyata tidak awet. Kena hujan, panas & keropos membuat pihak PLN memikirkan bahan apa yang bisa dipakai untuk pengganti tiang kayu ini. Dipilihlah bahan besi, sehingga tiang listrik menggunakan tiang besi. Si Hansip, sekarang tidak lagi suka membawa kentongan saat ronda, karena untuk menandai waktu, cukup ditabuhkan ke tiang listrik yang terbuat dari besi. Suara nyaring dari tiang besi membuat si Hansip bersemangat saat meronda. Namun, keberadaan tiang listrik dari besi, mengundang kontroversi saat hujan deras dan ada kabel telanjang beraliran listrik menempel pada tiang listrik terbuat dari besi itu. Pihak PLN memikirkan kembali bahan yang akan dipakai untuk tiang listrik. Dengan kriteria yang kuat dan aman. Kayu, aman tapi tidak tahan lama. Besi, kuat & tahan lama tapi bersifat konduktor, dikhawatirkan terjadi kesetrum. Tapi, si Hansip suka dengan tiang listrik dari besi ini. Dia butuh nyaringnya suaranya saat ditabuh manakala ronda malam hari.
Akhirnya, PLN memilih bahan beton. Perpaduan antara kekuatan besi & keisolatoran kayu. Namun, cara masangnya sangat sulit, dibanding kayu & besi. Diperlukan beberapa orang & katrol sederhana untuk memasang serta menegakkan tiang beton ini. Karena beratnya itu. Masyarakat menyambut dengan antusias karena kuat & aman. Kecuali, satu orang. Yaitu, si Hansip. Kenapa, karena harus kembali menenteng kentongan seperti jaman tiang kayu dulu.
Artinya, tidak ada kesempurnaan dari suatu proses. Sulit untuk memuaskan semua pihak. Dan, masih saja selalu ada yang menentang serta berlawanan pendapat. Itulah manusia, jauh dari sempurna.
