Selain hidangan point penting acara walimatul safar adalah silaturahmi & ceramah haji.
Ada cerita sang ustadz tentang baik sangka :
Ada 2 orang sahabat hendak mengadu nasib ke ibukota. Masing-masing dibekali dengan nasihat oleh orang tuanya. Si A dinasihati supaya selalu mempunyai pandangan baik atau berbaik sangka & jangan berburuk sangka atau su’udzon kepada orang yang nantinya ditemui di ibukota. Bila bertanya bisa bertanya ke siapa saja karena mereka adalah lebih tahu dari kita yang bertanya. Sebaliknya, si B dinasihati orang tuanya supaya hati-hati bila di Jakarta, waspadalah terhadap orang yang belum dikenal. Jangan terlalu mudah percaya pada orang yang belum kenal. Bertanyalah hanya kepada orang yang dikenal, tanyalah pada Polisi, dst.
Sesampai di Jakarta. apa yang terjadi. Si A dengan santainya mencari tahu suatu alamat dengan bertanya kepada siapapun karena didasari oleh baik sangka. Si A karena selalu berbaik sangka maka ketika bertanya perilaku menyenangkan yang ditunjukkan saat bertanya. Sehingga yang ditanya akan senantiasa senang menunjukkan jalan dan tidak akan menyesatkan. Sebaliknya, si B karena diajari waspada & jangan mudah percaya kepada siapapun, maka saat bertanya yang muncul adalah sikap curiga dan tidak percaya. Sehingga yang ditanya akan cenderung kurang suka & malah akan menyesatkan, dikarenakan sikap bertanya yang kurang mempercayai jawaban yang diterima.
Sebagai orang tua, mana yang kita ambil, sebagai nasihat untuk Si A atau Si B ? Tentunya ada yang memilih si A dan ada juga si B, karena itu tergantung latar belakang personal masing-masing, serta pengalaman atau trauma masa lalu.